Organisasi Pemuda Masjid Dunia mendorong remaja masjid di seluruh Indonesia untuk bergerak memberikan bantuan banjir bagi masyarakat Aceh dan Sumatera. Seruan ini muncul karena ribuan warga membutuhkan pertolongan cepat setelah banjir besar melanda berbagai wilayah. Ketua Umum Pemuda Masjid Dunia, Said Aldi Al Idrus, menegaskan bahwa komunitas masjid memiliki peran penting dalam menghadapi bencana. Menurutnya, masjid harus hadir sebagai pusat aksi, bukan sekadar tempat ibadah.
Masjid sebagai Pusat Pertolongan
Said Aldi mengajak seluruh pengurus dan remaja masjid agar membuka masjid sebagai tempat aman bagi warga terdampak. Ia menjelaskan bahwa masjid dapat menampung pengungsi, menyediakan logistik, dan menawarkan ruang aman bagi lansia, anak-anak, serta keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Dengan demikian, masjid dapat mengambil peran langsung sebagai pusat perlindungan.
Selain itu, ia menekankan pentingnya koordinasi terarah. Karena itu, ia meminta setiap remaja masjid menjalin komunikasi dengan lembaga kemanusiaan setempat. Melalui koordinasi yang solid, bantuan dapat mengalir lebih cepat dan tepat sasaran. Langkah ini juga meningkatkan efektivitas gerakan sosial di wilayah terdampak.
Gerakan Nyata dan Terorganisir
Pemuda Masjid Dunia mendorong remaja masjid untuk mengambil langkah nyata. Mereka dapat membuka dapur umum, mengumpulkan logistik, dan menyalurkan bantuan secara langsung. Setiap aksi ini memberi pengaruh besar bagi para penyintas banjir. Lebih jauh lagi, Said Aldi menegaskan bahwa kehadiran para relawan memberikan energi positif bagi korban yang membutuhkan dukungan emosional.
Selain itu, ia mengajak remaja masjid untuk memperkuat empati. Banyak keluarga kehilangan harta benda, sementara sebagian lainnya menghadapi tekanan mental akibat banjir. Oleh karena itu, dukungan psikologis harus berjalan bersamaan dengan distribusi bantuan. Remaja masjid dapat hadir sebagai pendengar, penyemangat, dan pendukung moral bagi warga yang terpukul karena kehilangan tempat tinggal atau anggota keluarga.
Kolaborasi Masjid dan Relawan
Gerakan ini sejalan dengan seruan berbagai organisasi keagamaan yang mendorong seluruh masjid di wilayah terdampak membuka pintu bagi para korban. Dengan demikian, masjid dapat menjadi posko penampungan, pusat distribusi makanan, dan titik koordinasi bagi relawan.
Untuk memperkuat gerakan ini, Pemuda Masjid Dunia mengajak seluruh relawan meningkatkan kolaborasi. Mereka dapat bekerja sama dengan pemerintah daerah, lembaga zakat, serta komunitas sosial lainnya. Ketika semua elemen bergerak bersama, masyarakat dapat menerima bantuan banjir dalam waktu lebih cepat.
Empati sebagai Kekuatan Utama Komunitas Masjid
Dalam penjelasannya, Said Aldi kembali menegaskan bahwa empati harus menjadi kekuatan utama komunitas masjid. Ia menyampaikan bahwa masyarakat membutuhkan dukungan penuh, bukan sekadar janji. Remaja masjid, sebagai generasi muda yang enerjik, dapat bergerak lincah untuk mendampingi warga yang kehilangan harapan.
Karena itu, ia meminta seluruh remaja masjid melakukan aksi langsung di lapangan. Mereka dapat membantu evakuasi warga, membersihkan rumah ibadah yang terdampak, serta menata ulang lokasi yang rusak. Semua tindakan ini mempercepat proses pemulihan di area banjir.
Komitmen Jangka Panjang untuk Pemulihan Korban
Pemuda Masjid Dunia berharap gerakan ini tidak berhenti pada distribusi logistik. Mereka ingin remaja masjid terus mendampingi masyarakat hingga masa pemulihan. Karena itu, mereka mendorong relawan untuk memberikan edukasi kebencanaan, membantu anak-anak kembali belajar, dan mendukung keluarga yang masih kesulitan secara ekonomi.
Dengan gerakan yang cepat, terorganisir, dan penuh empati, komunitas masjid dapat memberi kontribusi besar dalam penanganan bencana. Seruan ini sekaligus menunjukkan bahwa masjid tetap relevan sebagai pusat sosial, spiritual, dan kemanusiaan di tengah krisis.

